This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Lowongan Calon Panitia Pengawas Kabupaten/ Kota Se-Jawa Tengah Tahun 2017

 
Ilustrasi Pilkada 2017
Telah dibuka Lowongan Calon Panitia Pengawas Kabupaten/Kota Se-Jawa Tengah Tahun 2017, berikut adalah Pengumuman Pendaftaran Calon Anggota Panitia Pengawas Kabupaten/ Kota sebagaimana dikutip dari laman Website Bawaslu Provinsi Jawa Tengah : 

PENGUMUMAN
PENDAFTARAN CALON ANGGOTA PANITIA PENGAWAS KABUPATEN/KOTA
Nomor: 1/TIMSEL-PANWAS.JTG/VI/2017

Dalam rangka pembentukan Panitia Pengawas Kabupaten/Kota, maka Tim Seleksi Calon Anggota Panitia Pengawas Kabupaten/Kota, berdasarkan SK Bawaslu Provinsi Jawa Tengah Nomor: 50 KEP TAHUN 2017 tentang Tim Seleksi Calon Anggota Panitia Pengawas Kabupaten/Kota pada Pemilihan Gubernur dan Wakil  Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati serta Walikota dan Wakil Walikota dan/atau Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, serta Pemilihan Anggota DPR,DPD, dan DPRD, atas kewenangan yang diberikan oleh Undang–Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, dan Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum Nomor 10 Tahun 2012 sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Bawaslu Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan keempat Peraturan Bawaslu Nomor 10 Tahun 2012 tentang Pembentukan, Pemberhentian, dan Penggantian Antar Waktu Badan Pengawas Pemilihan Umum Provinsi, Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten/Kota, Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kecamatan, Pengawas Pemilihan Umum Lapangan dan Pengawas Pemilihan Umum Luar Negeri, membuka kesempatan bagi Warga Negara Indonesia yang memenuhi persyaratan untuk mendaftarkan diri sebagai calon anggota Panitia Pengawas Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah.
Adapun ketentuan pendaftaran adalah sebagai berikut:

1. Persyaratan calon anggota Panitia Pengawas Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut:
  • Warga negara Indonesia;
  • Pada saat pendaftaran berusia paling rendah 30 (tiga puluh) tahun;
  • Setia kepada Pancasila sebagai dasar Negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,  dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945;
  • Mempunyai integritas, pribadi yang kuat, jujur dan adil;
  • Memiliki kemampuan dan keahlian yang berkaitan dengan penyelenggaraan Pemilu dan pengawasan Pemilu;
  • Berpendidikan paling rendah S-1;
  • Berdomisili di wilayah Kabupaten/Kota yang bersangkutan yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk  (KTP atau Surat Keterangan Kependudukan dan Kartu Keluarga yang masih berlaku);
  • Mampu secara jasmani dan rohani.
  • Tidak pernah menjadi anggota partai politik atau telah mengundurkan diri dari keanggotaan partai politik  sekurang-kurangnya dalam jangka waktu 5 (lima) tahun pada saat mendaftarkan diri;
  • Mengundurkan diri dari jabatan politik, jabatan di pemerintahan, dan Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha   Milik Daerah pada saat mendaftar sebagai calon;
  • Tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap  karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih;
  • Bersedia bekerja penuh waktu;
  • Bersedia tidak menduduki jabatan politik, jabatan di Pemerintahan dan Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah selama masa keanggotaan apabila terpilih; dan
  • Tidak berada dalam satu ikatan perkawinan dengan sesama Penyelenggara Pemilu.

2. Mengajukan surat pendaftaran yang ditujukan kepada Tim Seleksi Panwas Kabupaten/Kota dengan dilampiri:
  1. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Surat Keterangan Kependudukan dan Kartu Keluarga (KK) yang             masih berlaku;
  2. Fotokopi ijazah pendidikan terakhir yang sudah disahkan/dilegalisir oleh instansi yang berwenang;
  3. Pas foto warna terbaru ukuran 4×6 sebanyak 5 (lima) lembar berlatarbelakang merah;
  4. Daftar Riwayat Hidup (DRH);
  5. Surat Keterangan Sehat Jasmani dari Rumah Sakit Pemerintah dan Surat Keterangan Sehat Rohani dari Rumah        Sakit yang menyelenggarakan pemeriksaan kejiwaan. (Surat keterangan ini disampaikan paling lambat pada                saat pelaksanaan tes wawancara)
  6. Surat Pernyataan yang meliputi:
    • Surat pernyataan setia kepada Pancasila sebagai Dasar Negara, Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945;
    • Tidak pernah menjadi anggota partai politik atau telah mengundurkan dari keanggotaan partai politik sekurang-kurangnya dalam jangka waktu 5 (lima) tahun pada saat mendaftarkan diri;
    • Tidak pernah menjadi Tim kampanye atau sebutan lainnya yang berkaitan dengan pemberian dukungan kepada calon Presiden dan Wakil Presiden, Anggota DPR, DPD, dan DPRD, Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, Walikota dan Wakil Walikota pada pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, Anggota DPR, DPD, dan DPRD, Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakil Walikota, sekurang-kurangnya dalam jangka waktu 5 (lima) tahun pada saat mendaftarkan diri;
    • Tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih;
    • Bersedia bekerja penuh waktu;
    • Kesediaan untuk tidak menduduki jabatan politik, jabatan di pemerintahan dan Badan usaha milik negara/Badan Usaha milik Daerah selama masa keanggotaan apabila terpilih;
    • Tidak berada dalam satu ikatan perkawinan dengan sesama Penyelenggara Pemilu. 
    • Surat Keterangan dari pengurus partai politik bahwa yang bersangkutan tidak lagi   menjadi anggota partai   politik dalam jangka waktu 5 (lima) tahun   terakhir bagi yang pernah menjadi pengurus partai politik;

3. Pelamar dapat melampirkan keterangan atau bukti lain yang mendukung kompetensi  
    calon.
4. Formulir berkas administrasi calon Anggota Panwas Kabupaten/Kota dan keterangan   
    lebih lanjut dapat diperoleh di Sekretariat Tim Seleksi Calon Anggota Panwas 
    Kabupaten/Kota atau melalui Website Bawaslu Provinsi Jawa Tengah di 
     bawaslu-jatengprov.go.id dan website Bawaslu RI www.bawaslu.go.id
5. Dokumen pendaftaran dapat diantar langsung, dikirim melalui pos, email, atau fax ke  
   Sekretariat Tim Seleksi Calon Anggota Panwas Kabupaten/Kota, Kantor Bawaslu 
   Provinsi   Jawa Tengah Jl. Papandayan Selatan No. 1 Semarang 50232, Telp./Fax. (024) 
   8505189
6. Dibuat masing-masing rangkap 3 (tiga) terdiri dari 1 (satu) asli dan 2 (dua) fotocopi.
7. Waktu penerimaan pendaftaran mulai tanggal 17 s.d 24 Juni 2017.
8. Pendaftaran dan seleksi tidak dipungut biaya.

  Monggo yang berminat.....

Share:

SERI CERITA RAKYAT WONOGIRI: Legenda Umbul Nogo Cerita Rakyat Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri (Bagian I)

umbul nogo
Sumber Air Umbul Nogo Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri


Di kabupaten Wonogiri banyak sekali legenda yang berkaitan suatu tempat atau petilasan yang memiliki kisah sejarah atau hanya sekedar mitos. Cerita tentang legenda ini dapat dijumpai fakta tempat yang mendukung kisah-kisahnya.

Berikut adalah satu legenda Umbul Naga sebuah cerita rakyat dari kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri. Legenda Umbul Naga dipercayai memiliki kaitan sejarah tentang kerajaan Mataram Kuno. 

Lokasi Umbul Naga berada di Desa Karanglor Kecamatan Manyaran. Tempat ini merupakan sumber air dengan debit besar terdiri dari 1 kolam air utama dan 2 buah kolam air dibawahnya. Sumber air ini masih dimanfaatkan warga setempat memenuhi kebutuhan air bersih.

Legenda Umbul Naga berawal kisah hidup seorang sakti bernama Begawan Sidik Wacana. Begawan Sidik Wacana memiliki anak laki-laki bernama Joko Lelono. Setelah beranjak dewasa, Begawan Sidik Wacana meminta anaknya Joko lelono untuk segera mencari seorang wanita untuk dijadikan istri.


“Anakku Joko Lelono, kamu sudah saatnya mencari seorang pedamping hidup. Agar hidupmu lengkap dan ada yang mengurus segala kebutuhanmu” pinta Begawan Sidik Wacana. “Ayahanda, memang benar adanya, saya ingin sekali segera memiliki seorang pedamping” jawab Joko Lelono.

Kemudian Begawan Sidik Wacana bertanya lagi tentang gambaran seorang wanita yang ingin dijadikan pedamping. “Aku menginginkan seorang wanita cantik, lemah lembut, setia dan baik hati sama seperti ibunda”  Joko Lelono menjelaskan.


“Apa! Anakku apakah kamu menginginkan Ibundamu untuk menjadi istrimu?” teriak Begawan Sidik Wacana ternyata salah paham apa yang diucapkan Joko Lelono. “Bukan begitu ayahanda, bukan maksud saya seperti yang ayahanda tuduhkan” bela Joko Lelono.

“Oooh anakkku, apa kamu buta ingin memperistri ibundamu?” tegas Begawan Sidik Wacana sekali lagi. Joko Lelono terdiam dan menunduk. Matanya terpejam erat dan meneteskan air mata, menyesal ia mengeluarkan kata yang menyakiti hati Sang ayahanda.


Setelah hening sesaat, Joko Lelono mencoba membuka matanya. Alangkah kaget dan bingung karena setelah membuka mata yang terlihat hanya gelap gulita. Kemudian ia mengusap matanya sekali lagi, dan justru semakin gelap. Karena melihat anaknya panik dengan terus mengusap mata, Begawan Sidik Wacana segera menghampiri anaknya. “Apa yang terjadi anakku” tanya Begawan. “Ampun ayahanda, apa yang menjadi kata ayahanda tentang mata saya yang buta menjadi kenyataan.” Jawab Joko Lelono.


Seketika itu, perasaan Begawan Sidik Wacana sangat sedih. Akibat mengeluarkan kata-kata yang akhirnya menjadi kutukan bagi anaknya.

“Anakku, kejadian sudah terlanjur. Kutukan ini akan kau jalani. Untuk menyembuhkan matamu yang buta, kau harus menjalani ‘laku tirakat’. Pergilah ke pertapaan di Dlepih Kahyangan Tirtomoyo, temuilah seorang pertapa Begawan Sidik Wasesa. Lakukan apapun perintahnya.” kata Begawan Sidik Wacana.

“Kamu akan ditemani 2 abdi dalem Ki Merkak dan Ki Jebres yang akan membantu kamu selama perjalanan.” terang Begawan.


Dengan mengendarai seekor gajah dan membawa sebuah payung, berangkatlah Joko Lelono dan kedua abdi dalem pergi ke Pertapaan Dlepih Kahyangan Tirtomoyo. Selama beberapa waktu melakukan perjalanan akhirnya sampai juga ke tempat tujuan.

Dengan hati senang, Joko Lelono mengetuk pintu Padepokan. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya keluar juga sang pemilik Padepokan Begawan Sidik Waseso. Setelah bertemu, Joko Lelono menceritakan kisah nya dan tujuannya menemui sang Begawan.

Dengan senyum dan keramahannya, Begawan Sidik Waseso beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Joko Lelono. Ia menempelkan kedua tangannya di kelopak mata Joko Lelono. Mulutnya komat-kamit membaca sebuah mantra. Sejurus kemudian, diusapkan berkali-kali tangan ke kelopak mata yang buta.


“Ananda sekarang berdoalah kepada Sang Pemilik Alam Jagad Raya, mohon ampunan dosa yang telah diperbuat, serta doakan dan mohon ampun kepada sang ayahanda agar penglihatanmu dibuka kembali.”perintah Begawan Sidik Waseso.

Sungguh ajaib, setelah proses pengobatan selesai, dibukalah kedua kelopak mata Joko Lelono. Perlahan-lahan ia mampu melihat seberkas cahaya, semakin lama semakin terang. “Terima kasih duh Gusti, hamba sudah mampu melihat kembali” ucap haru Joko Lelono.

Segera ia bersimpuh dihadapan Begawan Sidik Waseso, karena atas pertolongan darinya ia bisa melihat kembali. “Saya mengaturkan beribu terima kasih Sang Begawan. Sungguh merupakan berkah hamba dapat lepas dari kutukan ayahanda.” ungkap Joko Lelono.


“Sama-sama kisanak, sudah menjadi kewajiban kita harus tolong – menolong. Sekarang apa rencana kisanak selanjutnya.” Jawab Sang Begawan.

Setelah sekian waktu, akhirnya Joko Lelono berpamitan kepada Begawan Sidik Waseso. Ia hendak melanjutkan perjalanan. Dengan ditemani kedua abdi dalemnya, Joko Lelono melanjutkan perjalanan.


Dengan mengendarai gajah dan membawa sebuah payung, akhirnya Joko Lelono sampai di sebuah tempat. Tempat ini berupa bukit kecil mirip sebuah gunung yang lebih tinggi dari wilayah sekitarnya. Kepada kedua abdi dalemnya, ia memerintahkan untuk berhenti dan beristirahat.

Setelah itu, Joko Lelono bersemadi sambil memulihkan tenaganya. Terjaga dari semadi, Joko Lelono memanggil kedua abdi Ki Merkak dan Ki Jebres. “Paman berdua, saya telah bersemadi dan mendapat petunjuk untuk melanjutkan perjalanan. Saya tidak akan kembali ke Mataram. Saya akan terus melanjutkan perjalanan untuk menemukan calon pedamping hidup sesuai titah ayahanda.” Kata Joko Lelono.

“Baiklah tuanku. Kami akan terus setia mengikuti kemanapun tuanku pergi” jawab kedua abdi dalemnya.

“Untuk mengingat kejadian ini, tempat kita beristirahat saya beri nama Gunungan.” Joko Lelono berujar dengan lantang. Setelah berujar, ia memerintahkan kedua pembantunya beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.


Sekian waktu beristirahat, Joko Lelono berniat melanjutkan perjalanan. Ia hendak memanggil kedua abdi dalem, akan tetapi dilihatnya kedua orang itu masih tertidur dengan pulas.Tidak ingin menggangu istirahat mereka, Joko Lelono melanjutkan perjalanan dengan mengendarai gajah hingga akhirnya pada sebuah tempat.

Ki Merkak dan Ki Jebres tak lama pun terbangun dan beranjak menyusul tuannya yang telah pergi. Dengan mengikuti jejak kaki gajah akhirnya segera menyusul Joko Lelono.

Mereka melihat Joko Lelono tampak bingung dan akhirnya memutuskan turun dari punggung (geger) gajah.


Dengan segera dihampiri tuannya. “Kenapa Tuanku turun dari punggung gajah?” tanya kedua pembantu setia itu. “Paman, saya bingung hendak kemana saya hendak melanjutkan perjalanan.” Keluh Joko Lelono.

“Sabar Tuanku. Sebaiknya kita beristirahat barang sebentar.” Saran Ki Merkak. “Baiklah. Kita beristirahat. Untuk mengenang kejadian ini, saya namakan tempat ini Nggeger (punggung)” ujar Joko Lelono.


Sambil beristirahat, Joko Lelono teringat payung yang selalu ia bawa. “Paman, dimana payung yang selalu kita bawa?” tanya Joko Lelono. “Ampun Tuanku, hamba lupa membawa. Payung itu tertinggal dalam perjalanan.” Jawab Ki Jebres.

“Tolong paman, itu adalah pemberian ayahanda, segera ambil kembali.” Perintah Joko Lelono. “Baiklah. Segera kita ambil payung untuk Tuanku” jawab Ki Merkak. Pergilah kedua abdi ini mencari dimana payung tertinggal. Sekian lama melakukan pencarian, akhirnya sampi juga pada tempat dimana payung tertinggal. Alangkah terkejutnya melihat payung yang dicari telah menjadi sebuah batu. “Astaga, payung telah menjadi batu.” Teriak Ki Jebres. 

Kedua abdi terkejut dan duduk disamping batu jelmaan payung milik Joko Lelono. Untuk mengingat kejadian ini, mereka sepakat menamai tempat ini dengan nama Watu Payung. (Bersambung ke Bagian II)
Share:

SERI CERITA RAKYAT WONOGIRI: Legenda Umbul Nogo Cerita Rakyat Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri (Bagian II - Habis)



Ilustrasi Pertarungan Gajah Tunggangan Joko Lelono dan Ular Naga Peliharaan Ratu Dyah Ayu Putri Serang


Sementara itu, sambil menunggu kedua abdi kembali, Joko Lelono mengamati tempat ia berada. Tiba-tiba ia melihat seberkas cahaya terang sebesar lidi bergerak menuju suatu tempat.

Penasaran dengan apa dilihatnya, Joko Lelono kemudian mengikuti kemana arah cahaya itu bergerak. Hingga akhirnya cahaya itu berhenti pada sebuah tempat yang merupakan kekuasaan Dyah Ayu Putri Serang Sang penguasa kerajaan roh halus (Alaming Lelembut).

Setelah sampai di wilayah kerajaan ini, Joko Lelono tahu ini bukan tempat sembarangan. 

Dalam pandangan mata batinnya dilihatnya sebuah Gerbang yang megah. Dijaga oleh para prajurit yang gagah berani. Begitu sampai di gerbang ini, Raden Joko Lelono dijemput oleh sang prajurit. Seakan tahu bahwa Joko Lelono memang sedang ditunggu. “Selamat datang Tuan. Mari hamba antarkan menuju istana, Ratu sudah menunggu kedatangan Tuanku” sapa sang prajurit. Untuk menandai pintu gerbang ini, kemudian diberi nama Lawang Gapit.

Joko Lelono kemudian dikawal menuju ke dalam istana yang megah. Joko Lelono sangat kagum dengan besarnya istana dihadapannya. Hatinya pun bergumam, siapakah pemilik istana ini.


Setelah dipersilahkan duduk di singgasana untuk tamu kerajaan, Joko Lelono berdiam sambil menunggu kedatangan Sang Ratu. Akhirnya Sang Ratu pun muncul dibalik tirai sutera di pintu utama istana. Raden Joko Lelono terkesima dengan kecantikan sang Ratu Lelembut. Begitu juga, Dyah Ayu Putri Serang menunjukkan tingkah mengagumi sosok pemuda didepannya.


“Salam sang Ratu. Ampunkan keberanian hamba datang ke kerajaan Sang Ratu” sapa Joko Lelono seraya merapatkan kedua tangan didepan dada.

“Tuan yang gagah perkasa. Memang sengaja aku mengundang Tuan. Perkenalkan nama hamba Ratu Dyah Putri Serang. Penguasa kerajaan ini.” jawab Sang Ratu sambil melemparkan senyum manis.

“Perkenalkan nama saya Joko Lelono dari kerajaan Mataram.” tegas Joko Lelono.

Setelah perkenalan itu, pembicaraan kedua insan ini semakin akrab, sekali-kali diselingi tawa riang keduanya.


“Tuan Joko Lelono, maukah tinggal disini untuk menemani kesepianku selama ini.” pinta sang Ratu. Setelah terdiam beberapa saat, Joko Lelono pun menjawab “Sungguh suatu takdir, saya juga  sedang mencari pedamping hidup. Dan telah lama dan jauh perjalanan untuk menemukannya.”


“Sanggupkah apabila bersedia memenuhi permintaanku?” Tanya Sang Ratu. “Syarat apakah kiranya?” kata Joko Lelono. “Apabila Tuan bersedia, maka Tuanku tidak akan bisa kembali ke alam sebelumnya.” Terang Sang Ratu.

“Ah Sang Ratu, demi mendampingi Sang Ratu saya sanggup memenuhi syarat tersebut.” Jelas Joko Lelono. Mulai saat itulah, Joko Lelono tidak bisa lagi kembali ke dunia dan terkunci kedalam kerajaan Sang Ratu Dyah Putri Serang penguasa alaming lelembut.


Ditempat lain, Ki Merkak dan Ki Jebres telah kembali dari pencarian payung. Mereka terkejut, karena Joko Lelono dan gajah tunggangannya sudah tidak berada ditempat. Mereka pun mencari dengan mengikuti jejak kaki gajah. Setelah sekian lama. Akhirnya tiba disuatu tempat yang memiliki aura mistis dan menyeramkan. Hawa dingin seakan menusuk tulang, suara binatang yang melolong diiringi harum aroma bunga yang membuat bulu kuduk merinding.


“Ki Merkak, mata batin saya mengatakan disinilah tuan kita Joko Lelono berada. Akan tetapi saya belum melihat yang sebenarnya.” kata Ki Jebres kepada temannya.

“Lihatlah, itu gajah tunggangan Tuan Joko Lelono” teriak Ki Merkak sambil menunjuk sebuah pohon tempat terikatnya gajah.


“Tempat ini sangat angker. Kita tidak bisa meneruskan masuk ke dalam wilayah ini” tutur Ki Jebres. “Baiklah. Saya akan menemui Joko Lelono melalui kekuatan gaib.” Kata Ki Merkak.

Ia kemudian duduk bersila pada sebuah batu. Mengatupkan mata dan mulai bersemadi, melakukan telepati untuk berbicara dengan Joko Lelono.

Dalam telepati ia berhasil menemui Joko Lelono. Dengan kekuatan gaib pula mereka bisa berkomunikasi. “Tuan, apakah yang sebenarnya terjadi. Dimanakah Tuan berada?” tanya Ki Merkak. “Maafkanlah saya paman berdua. Saya telah terikat janji dengan penguasa kerajaan lelembut. Sudah menjadi niat saya tinggal disini. Saya tidak mungkin kembali ke alam dunia.” Jawab Joko Lelono. “Baiklah Tuan, kami berdua akan meneruskan perjalanan. Untuk menandai peristiwa ini, saya beri nama tempat ini Tompak.” Ujar Ki Merkak dan Ki Jebres.


“Tolong paman, rawatlah gajah tungganganku. Jaga baik-baik hewan kesayangan itu.” Pinta Joko Lelono. “Tolong paman pergilah ke arah utara, temuilah pasangan tua sakti Ki Makarang dan sang istri. Mintalah petunjuk kepadanya.” Perintah Joko Lelono. Kedua paman itu menyanggupi dan segera memohon pamit melanjutkan perjalanan.

Kedua paman setia itupun berjalan ke arah utara. Setelah beberapa waktu melakukan perjalanan hingga sampai di tempat Ki Makarang berada. Segera mereka menemui Ki Makarang dan mohon petunjuk apa yang harus dilakukan.


Sungguh ajaib, Ki Makarang hanya tersenyum dan mengatakan bahwa sudah tahu semua yang dialami Ki Merkak dan Ki Jebres. “Terimalah kelapa muda dan tape ketan sebagai bekal di perjalanan ki sanak.” kata Ki Makarang kepada kedua abdi dalem Joko Lelono.

“Kembalilah segera jemput gajah tunggangan Tuan kalian karena jika terlambat akan membahayakan kesemalatannya.” lanjut Ki Makarang. Dengan bergegas kedua paman pergi mencari sang Gajah.


Sementara itu, di pohon tempat gajah sudah tercabut hingga akarnya. Gajah tunggangan Joko Lelono terlihat mengamuk dan menimbulkan suara gaduh yang luar biasa. Pohon-pohon ditumbangkan, bebatuan beterbangan di tendang gajah itu. Karena suara bising dan gaduh inilah membuat peliharaan Sang Ratu Dyah Ayu Putri Serang yaitu seekor ular Naga besar terbangun.

Mata ular Naga nanar seakan menahan amarah karena terbangun oleh suara gaduh sang Gajah.


Segera ia merayap mendekati sumber suara dan didapatinya Gajah tunggangan Joko Lelono masih mengamuk. Tanpa banyak bertingkah, Ular Naga mendekati Gajah dan segera bersiap menyerang. Melihat kedatangan Ular Naga, Gajah terdiam dan menghentikan sejenak amukannya.


Gajah tahu bahwa Ular Naga dihadapannya sedang menyiapkan jurus mematikan. Ular Naga pun berdesis keras, lidahnya menjulur dan siap menyerang dengan menyemburkan api. Gajah bergeming, dengan gading yang besar segera menyerang perut Ular Naga.

Keduanya pun terlibat pertarungan yang luar biasa. Saling menyerang dengan senjata masing-masing hingga tempat pertarungan berantakan.

Ki Merkak dan Ki Jebres akhirnya sampai di tempat pertarungan. Mereka terkejut, apa yang dikatakan Ki Makarang benar adanya. Ternyata Gajah dan seekor Ular Naga sedang bertarung yang bisa membahayakan keselamatan. Ki Merkak dan Ki Jebres tidak berani mendekat karena kekuatan kedua binatang begitu dahsyat. Setelah kedua binatang bertarung dengan hebatnya, tidak ada yang menang dan kalah. Baik Gajah dan Ular Naga tubuhnya sama-sama hancur, meledak hingga tercerai berai. Seraya mengumpulkan potongan Gajah dan Ular, Ki Merkak memendam buah kelapa pemberian Ki Makarang.


Mereka berjalan ke arah selatan di tempat potongan perut Ular Naga berada. Potongan perut ular ini yang ada pusarnya memancarkan sumber air jernih kemudian hari  diberi nama Umbul Ngudal. Sedangkan potongan badan gajah jatuh diutara tempat itu dan menjadi sebuah gunung yaitu Gunung Gajah Mungkur.

Setelah merasa capek, kedua abdi dalem teringat bekal yang diberikan Ki Makarang yaitu buah kelapa muda yang telah dipendam di suatu tempat. Mereka pun mencari dengan menggunakan batang bambu dengan menusuk ke tanah sambil mencari buah kelapa. Tidak disangka, tusukan batang bambu mengenai buah kelapa dan air kelapa keluar dan menjadi sumber air yang besar. Untuk menandai sumber air ini kemudian hari dikenal dengan Umbul Nogo karena tempat pertarungan Ular Naga.


Semakin lama air menggenangi wilayah itu hingga mencapai rumah Ki Makarang. Ki Merkak dan Ki Jebres bersemadi mohon petunjuk bagaimana menghentikan aliran air. Setelah mendapat petunjuk, mereka segera menyediakan syarat agar air bisa berhenti atau mengecil, yaitu seekor kambing kendit, ijuk atau sapu duk, dan dandang. Setelah menyediakan syarat ini, sumber air kemudian bisa mengecil. Untuk mengenang kejadian ini, Ki Merkak dan Ki Jebres menamakan wilayah ini Karanglor karena dekat dengan rumah Ki Makarang.


Setelah semua kejadian ini selesai Ki Merkak dan Ki Jebres menemui Ki Makarang. “Dan pesan saya Ki Makarang, sumber air akan menjadi sumber kehidupan bagi anak cucu. Dan kelak jika anak cucu kita menanam padi disekitar sini hendaklah saat panen harus menyediakan kelapa muda, tebu dan badeg (badeg = tape ketan), kami akan membantu anak cucu untuk memperoleh kemakmuran." ujar Ki Jebres panjang lebar.

"Baiklah, akan kuingat pesan Kyai." jawab Ki Makarang. "Ya Ki. Ingatlah terus pesan kami maka kami akan membantu anak cucu kami di Karanglor ini secara sesingidan (secara gaib)." ujar Ki Jebres.


Setelah berpamitan dengan Ki Makarang, mereka segera melanjutkan perjalanan. Itulah kisah Legenda Umbul Nogo sebuah Cerita Rakyat Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri. Penasaran dengan Umbul Nogo Kabupaten Wonogiri? Ayo Rame-Rame Neng Wonogiri! 

(Ditulis kembali dari berbagai sumber).


Share:

Definition List

Unordered List

Support